Berita

Palestina, Semoga Allah senantiasa kuatkan perjuangan mereka sampai kalimat “Palestina Merdeka !” menjadi nyata. #LetsUniteForAlQuds

Ayo, Bagikan:

ACTNews, GAZA – Siang hari di Gaza, Palestina, matahari baru saja lewat di atas bayangan kepala. Azan zuhur berkumandang, iqamat disuarakan, lalu salat zuhur berjamaah pun ditunaikan. Walau Gaza sedang mencekam, tapi lihat saja berapa banyak saf-saf salat yang tetap terisi penuh setiap lima waktu salat.

Bagaimana pun eskalasi krisis kemanusiaan yang sedang mendera Gaza, kenyataannya Masjid di Gaza tetap menjadi pusat dari segala aktivitas. Masjid menjadi pondasi nyata yang menyatukan hati tak kurang dua juta jiwa populasi masyarakat Gaza.

Selasa (19/12) lalu, dari deretan album foto-foto yang dikirimkan langsung dari Gaza sampai ke Jakarta, tampak sekali betapa hati masyarakat Gaza tetap hangat, kompak, dan solid.

Foto-foto itu menunjukkan, bahwa krisis boleh saja mendera Gaza sampai ke titik nadir. Tapi, saf-saf masjid di seantero Kota Gaza itu tetap tak ditinggalkan.

Beranjak dari alasan itulah, relawan Dapur Umum Indonesia untuk Palestina yang diinisiasi Aksi Cepat Tanggap (ACT) singgah sejenak ke masjid-masjid di Gaza. Relawan-relawan ACT di Gaza itu membawa ribuan paket makan siang untuk jamaah salat di beberapa masjid di Gaza.

Ada dua masjid yang disambangi relawan ACT di Gaza Selasa (19/12) lalu. Untuk dua masjid di Gaza itu, Dapur Indonesia untuk Palestinasudah siapkan tak kurang 1000 porsi makan siang. Menunya istimewa, nasi daging dengan semerbak harum bawang bombai.

Selasa lalu, amanah masyarakat Indonesia berupa seribu paket makan siang disiapkan langsung untuk Masjid Al-Safa di Al-Burige Camp, juga Masjid Al-Huda di Al-Nussirte Camp. Kedua masjid termasuk yang terbesar di seantero Gaza.

“Relawan ACT di Gaza sudah siapkan sejak pagi menu nasi daging. Jumlahnya 1000 porsi. Distribusi makanan dari Dapur Umum Indonesia untuk Palestina dilakukan menjelang salat Zuhur. Santap makan siang dilakukan berbarengan di dalam masjid setelah salat zuhur ditunaikan,” kisah Andi Noor Faradiba, dari Tim Global Humanity Response ACT.

Abu Najjar (nama disamarkan, -red) salah satu relawan ACT di Gaza menuliskan dalam pesan singkatnya, Ia dan timnya sudah siapkan paket makanan sebelum azan dikumandangkan di Masjid Al-Safa dan Masjid Al-Huda. Hampir seribu lelaki Gaza yang menunaikan Zuhur di dua masjid siang itu dipersilakan tunaikan salatnya terlebih dahulu.

Setelah itu, ratusan porsi nasi disiapkan berjajar, dari bagian saf paling depan sampai saf paling belakang. Semua jamaah salat bergabung jadi satu. Dari si bocah kecil, sampai si kakek.

Langsung di dalam kedua masjid itu, makan siang berjamaah pun dilakukan. Selain nasi daging, ada pula jus buah sebagai pelengkap.

“Alhamdulillah, nasi daging panas dari Dapur Indonesia ini masih sedap mengepul. Hangat masjid di Gaza jadi makin hangat. Padahal suhu di luar sudah ada di angka 10 derajat celsius. Gaza mulai memasuki musim dingin,” ujar Najjar.
Sekali lagi ada ribuan kebaikan hati masyarakat Indonesia di dalam masjid di Gaza. “Syukron Indonesia, Syukron ACT,” pungkas Najjar.

Masih belum lepas dari ingatan, Masyarakat Palestina bahkan masyarakat dunia masih marah karena peristiwa penutupan Masjid Al-Aqsa beberapa bulan lalu. Kini, pelanggaran terhadap kesepakatan internasional terang-terangan dilanggar oleh Israel dan Amerika. Membuat luka yang masih basah kembali berdarah.

Teriakan nyaring pun bergema di seantero Palestina, Birruh, Biddam, Nafdika ya Aqsa! Dengan ruh, dengan darah, kami bela kau ya Aqsa!

Pasca Presiden Amerika menyatakan akan memindahkan kedutaan besarnya dari Tel Aviv ke Yarusalem ( Al Quds) pada hari Rabu (6/12), menyebabkan aksi protes warga Palestina yang dibalas dengan kekerasan oleh Militer israel hingga menimbulkan bentrokan di Jalur Gaza, dalam bentrokan ini menimbulkan korban meninggal dan luka-luka. Juga menyebabkan ketidakstabilan kondisi masyarakat dan mengganggu perekonomian Palestina, ditambah lagi dengan telah masuknya musim dingin di Palestina menambah penderitaan warga Palestina, suhu hari ini saja (8/12) mencapai 5 derajat celcius.

Menyikapi musim dingin di Palestina, di pekan ke-4 November, ACT telah mendistribusikan paket bantuan musim dingin, berupa selimut dan pakaian hangat, kepada 200 keluarga di bagian utara jalur Gaza. Selain bantuan paket langsung yang diberikan, dari 200 keluarga tersebut, keluarga yang memiliki anak usia sekolah diberikan voucher (Humanity Card), yang dapat digunakan untuk memilih baju-baju hangat di toko-toko pakaian yang sudah bekerjasama dengan ACT.

Hal ini dilakukan untuk menghibur dan memberi kebahagiaan kepada anak-anak, agar mereka dapat terus bersekolah dan dapat melakukan aktifitas sehari-hari ditengah terpaan cuaca dingin . Saat ini warga Gaza bukan hanya tengah berjuang melawan cuaca ekstrem, mereka juga tengah memperjuangkan tanah air tercinta, memperjuangkan hak-hak yang terampas dengan segala keterbatasan.

Lebih dari dua juta jiwa warga Palestina akan melewati musim dingin ditengah ketidakstabilan politik dan ekonomi. Doa dan dukungan terbaik kita insyaAllah akan menguatkan perjuangan saudara-saudara kita di Palestina. Jangan biarkan mereka membeku, hanya karena hati kita yang beku.

Palestina: konflik yang tak kunjung usai

“Bagaimana rasanya sholat sementara di depan kita ada sekelompok pasukan bersenjata lengkap menghadang?”
Bagi kita di Indonesia, tentu sulit untuk membayangkan hal tersebut.

Namun bagi warga Palestina, ternyata mereka tidak gentar dan tetap shalat berjamaah di luar areal Masjid Al Aqsa, kiblat pertama umat Islam, sebagai bentuk protes terhadap kedzaliman zionis Israel.

Pada Jumat (14/7) lalu, Masjid Al-Aqsa sempat ditutup total untuk segala aktivitas keagamaan. Untuk pertama kalinya sejak tahun 1967, zionis Israel menutup akses bagi umat Muslim untuk beribadah di Masjid Al Aqsa.

Pemicunya berawal dari aksi penembakan terbuka yang terjadi di dalam kompleks Al-Quds. Membuat masjid dan seluruh petak di Kompleks Tua Al-Quds diblokade dan ditutup total oleh Israel bagi Warga Muslim Palestina.

Riuh protes muslim dunia seakan tak digubris oleh Israel dan kabar berdarah pun kembali terdengar. Sesaat setelah salat Jumat dilangsungkan di Aqsa, Jumat (21/7), darah mengucur deras di muka teras, halaman depan masjid Al-Aqsa.
Tepat setelah ucapan salam dikumandangkan Imam dari mimbar Al-Aqsa, konflik meletus tepat di depan halaman Al-Aqsa.

Sementara itu di Gaza

Lebih dari 10 tahun Israel meblokade Gaza, sehingga Gaza tidak bisa menjalin hubungan luar negeri dalam aspek apapun. Implikasi ekonomi begitu terasa. Tidak banyak barang yang dapat melintas, sehingga menyebabkan kurangnya suplai di pasar. Harga pun menjadi mahal. Orang-orang harus mengatur strategi memenuhi kebutuhan keluarganya, dan sudah tentu, beberapa bisnis mengalami kerugian.

Terbatasnya listrik juga menjadi masalah utama masyarakat Gaza. Dalam satu hari, Gaza hanya mendapat pasokan listrik selama tiga jam, sementara 21 jam lainnya dihabiskan dalam kegelapan. Hal ini membuat bisnis, kantor, dan sekolah sukar beroperasi. Pasien di rumah sakit pun terancam keselamatannya.

“Untuk penerangan, orang-orang menggunakan lilin atau obor kecil,” kisah Jomah Najjar, salah satu mitra ACT yang lain di Gaza.

Saudaraku, Palestina masih tegar meski berdarah. Mereka mewakili 1.5 milyar muslim dunia lainnya menjaga Al-Aqsa kiblat pertama ummat Islam.

Meski konflik, teror, kekurangan makan, gelap dan pengap tanpa listrik, pasokan air bersih yang terus menipis, harga yang melambung, penghasilan yang rendah dan segenap masalah kehidupan lainnya tak terelakkan bagi mereka.
ACT telah menyalurkan bantuan masyarakat Indonesia berupa bantuan pangan, pakaian musim dingin, pembangunan sarana kesehatan dan pendidikan, bantuan penerangan dan lain sebagainya bagi Palestina.

Mari ulurkan tangan bersama bantu Palestina.Mari bebaskan kiblat pertama yang terpenjara kedzaliman.Bersama selamatkan Al-Aqsa!

Sumber : Kitabisa.com
________________________________________

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *