piknik keluarga
Uncategorized

Mau Piknik Sama Keluarga? Berangkat Sekarang Juga. Jangan Tunggu Kaya, Nanti Keburu Tua

Ayo, Bagikan:

JANGAN TUNGGU KAYA

Saya bilang ke istriku, setiap bulan kita akan wisata keluarga. Ini akan menjadi semacam agenda tetap keluarga kami.

Mungkin bagi banyak orang lain ini adalah pemborosan, apalagi secara finansial kami hidup masih pas-pasan.

Saya bahkan tidak pernah punya uang lebih dari sejuta di rekening ku, apalagi tabungan masa depan.

Tapi kawan…

Anak gadis kami sekarang berumur 9 tahun,kalau menunggu cukup uang,saya mungkin akan kaya ketika dia sudah berumur 17 tahun.

Ketika itu terjadi, saya yakin anak gadis kami akan lebih memilih berwisata dengan kawan-kawan sekolah atau kampusnya. Kalaupun ikut wisata keluarga, dia akan ikut dengan terpaksa. Tidak seperti sekarang, dia dengan sangat semangat menunggu acara wisata keluarga kami.

Jadi Saya Tidak menunggu Kaya…..

Demikian juga dengan si tengah dan si bungsu. Kami menikmati saat-saat kegembiraan mereka menikmati wisata keluarga bersama.

Suatu saat kami mungkin hanya akan wisata berdua saja dengan istriku, karena saat itu anak-anak kami akan lebih memilih wisata bersama kawan, pacar atau genk mereka sendiri.

Saya juga tidak akan menunggu kaya….

Karena sepuluh tahun yang akan datang, di saat kami mungkin kaya.
Gigi kami tidak akan sekuat sekarang untuk mengunyah aneka ragam kuliner di tempat wisata.
Otot kaki kami tidak akan sekuat sekarang untuk berjalan dan berlari menikmati pesona alam.
Karena itu kami tidak akan menunggu kaya untuk wisata keluarga….. (Azwar Siregar).

Setuju Bro…

Sekaranglah Waktu yang Tepat Piknik Bareng Keluarga, Jangan Tunggu Kaya Nanti Keburu Tua
RASA haru sering saya rasakan ketika saya mendapat pertanyaan maupun pernyataan dari sejumlah orang tentang aktivitas saya bersama keluarga.

Aktivitas yang dimaksud adalah ketika bisa piknik bareng suami dan duo crucils.

Contoh pertanyaan yang sering saya dapatkan lewat jalur pribadi adalah begini,” Mbak Menix, saya senang loh ngikuti cerita jalan-jalan Mbak bareng keluarga. Kompak! Kok bisa?”

Sedangkan contoh pernyataan yang sering saya dapatkan seperti ini,” Mbak, aku sekarang juga rajin ngajak anak-anak dan suami jalan-jalan. Terinspirasi dari Mbak yang suka posting tempat-tempat piknik bareng keluarga.”

Selain haru, saya pastinya bersyukur dan Alhamdulillah bahwa aktivitas yang saya posting memberikan efek positif dan menginspirasi orang lain untuk ikut piknik mengajak keluarga.

Ehmmm mungkin juga dari sejumlah yang membuat saya haru itu, ada yang beranggapan bahwa saya suka pamer jalan-jalan dan makan-makan enak.

Secara jujur saya katakan, aktivitas piknik dan makan bareng keluarga serta teman-teman bukanlah bermaksud hendak pamer.

Jauh dari kata itu, tujuan satu-satunya memang ingin menginspirasi banyak keluarga untuk sering-sering piknik bersama.

 

Ada sejumlah alasan mengapa itu saya lakukan.

1. Family Travel Blogger

Sebagai seorang family travel blogger ya memang hobi dasar yang saya miliki adalah jalan-jalan bersama keluarga.

Kemana pun saya pergi, sebisa mungkin saya ajak suami dan anak, apalagi di saat weekend.

Kebersamaan keluarga di akhir pekan, merupakan momen sangat penting karena di waktu itulah semua anggota keluarga bisa kumpul dan menghabiskan waktu bersama.

Walaupun demikian, akhir-akhir ini kami agak jarang piknik karena my oldest lady sudah masuk SD, dan waktunya sangat terbatas untuk bisa keluar kota.

2. Sekaranglah Waktunya

Saat ini my oldest lady sudah duduk di bangku kelas satu SD dan the youngest berumur empat tahun.

Jika ditanya kapan waktu yang tepat untuk sering-sering piknik bersama keluarga, saya katakan sekaranglah waktunya.

Sekarang, ya sekarang…. Ketika anak-anak masih kecil dan menganggap mama dan papanya adalah bagian terpenting dalam segala aktivitasnya.

Sekarang, ya sekarang, ketika saya dan suami masih belum berumur setengah abad.

Kami berdua masih mampu berjalan kaki dalam jarak yang jauh, mendaki bukit dan gunung, menyusuri pantai, dan berenang menikmati indahnya alam bawa laut.

Jangan tunggu nanti. Jangan tunggu anak-anak sudah besar. Jangan tunggu kaya. Karena ketika yang ditunggu tiba, kita sudah tua.

Lagian, begitu anak-anak besar (mulai remaja), maka momen bahwa orangtua sebagai bagian terpenting dalam aktivitas mereka sudah mulai berkurang.

Anak-anak akan mulai sibuk dengan dunia mereka, teman-teman mereka, dan seabrek aktivitas sekolah, les ini-itu, dan lainnya.

Di saat begitu, kita tinggal mengawasi dan memberikan “pecut” jika mereka mulai menyeleweng dari koridor.

Di saat anak-anak remaja akan lebih sulit mengajak mereka untuk traveling bersama.

Waktunya pun semakin sempit untuk bisa bersama keluarga.

Apalagi jika mereka sudah mandiri dan memutuskan untuk bersekolah di pondok ataupun di luar kota.

Maka, waktu yang tersedia hanyalah sesekali saja.

Lagipula, ketika anak mulai remaja, usia orang tua, misalnya saya dan suami sudah kepala empat, bahkan hampir setengah abad.

Kebanyakan orang Indonesia, di usia segini mulai berpenyakitan.

Gigi pun mulai tidak sempurna untuk mengunyah makanan lezat, dokter pun sudah memberikan sederet daftar makanan yang harus dihindari karena alasan kolesterol, asam urat, diabetes, dan lainnya.

Belum lagi tenaga yang mulai ngos-ngosan untuk bertualang menyusuri hutan, mendaki bukit, mengelilingi pantai, dan aktivitas fisik lainnya.

Apakah jalan-jalan di masa sudah mulai tua senikmat ketika masih muda dan penuh tenaga? Rasanya tidak ya!

3. Pengalaman Masa Lalu

Apa yang saya sampaikan di atas sebagian adalah refleksi dari kealpaan di masa lalu.

Saya dan suami sama-sama memiliki orangtua yang punya banyak anak.

Waktu kedua orangtua kami hampir sepanjang tahun dihabiskan untuk bekerja guna memenuhi kebutuhkan keluarga.

Bahkan, dalam memori saya, tidak pernah sekalipun saya merasakan piknik bersama kedua orangtua bersama-sama.

Satu-satunya piknik tahunan yang sangat menyenangkan ketika saya seumuran anak saya sekarang ini adalah nonton bioskop di hari lebaran bersama ibu saya.

Film yang ditonton di antaranya Saur Sepuh, Warkop DKI, dan Suzanna…. (Hahahaha anak sekecil itu diajak nonton film dewasa).

Kalau dilihat dari judul filmnya memang bisa bikin miris karena itu tontonan orang dewasa sementara saya masih anak-anaknya.

Tapi ternyata yang saya ingat sampai sekarang bukanlah soal isi film tersebut, terapi rasa bahagia bisa bersama almarhumah ibu saya sepanjang hari.

Untuk aktivitas menonton itu, kami berdua berangkat dari rumah sekitar pukul 10.00 WIB.

Saya diboncengi sepeda oleh ibu saya ke bioskop dengan jarak perjalanan sekitar satu jam.

Sepulangnya dari bioskop, kami makan bakso, dan berfoto bersama di studio foto. Rasanya sungguh bahagia.

Mengapa Bapak saya tidak ikut? Ketika itu, beliau sudah sakit-sakitan dan lebih memilih berada di rumah ketimbang ikut piknik nonton bioskop.

Sedih memang ketika dalam hidup kita tidak punya kenangan kebersamaan bersama kedua orangtua di momen-momen spesial.

Dari pengalaman masa kecil saya itu, kini saya ingin memberikan kenangan sebanyak-banyaknya kepada duo crucils tentang kebersamaan mereka bersama mama dan papa mereka yang bisa diingat sepanjang hidup mereka.

4. Masalah Uang?

Yang namanya jalan-jalan, piknik, rekreasi, tamasyah, dolan-dolan, melaku-melaku, jokka-jokka, traveling, (ehmmm apalagi ya), ya pastinya memang menghabiskan uang.

Kalaupun jalan-jalannya disponsori, biasanya yang dibayari adalah hanya satu orang, selebihnya bayar sendiri.

Atau kalaupun jalan-jalan karena menang undian piknik sekeluarga dan semua ditanggung, tetap saja ada pengeluaran pribadi yang kudu dibayarkan.

Uang memang penting dan banyak yang beranggapan jalan-jalan tidak penting karena menghabiskan uang.

Hidup ini kudu ada skala prioritas.

Karena saya menempatkan kebersamaan keluarga dan memberikan kenangan kepada anak-anak adalah masuk dalam skala prioritas, makanya saya menganggarkan dana untuk piknik.

Caranya? Gampang saja. Sisihkan sejumlah uang (sesuai kemampuan masing-masing) khusus untuk piknik.

Kemana tujuan piknik? Kembali lagi pada kemampuan keuangan keluarga.

Jika tidak mampu yang jauh-jauh, ya yang dekat saja.

Yang terpenting adalah kebersamaan dan memberikan kenangan bersama bagi anak-anak kita.

sumber: Disini

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *