gerindra
Berita

Koalisi Gerindra, PAN, dan PKS Siap Menangkan Pilkada Jabar-Jateng

Ayo, Bagikan:

Menurut Ketua Umum Partai Gerindra, Prabowo Subianto, Gerindara di DPRD Jawa Tengah hanya memiliki 11 kursi. Sedangkan syarat untuk mendukung, Sudirman Said dibutuhkan paling sedikit 20 kursi.

“Partai-partai pengusung terus terang saja, kita sudah konsultasi sangat dekat. Sangat erat. Teman-teman dari PAN dan PKS kita sedang bicara,” kata Prabowo di kediamannya kawasan Kertanegara, Jakarta Selatan, Rabu 13 Desember 2017.

Prabowo mengatakan, jika menggandeng PKS dan PAN, maka pengusung Sudirman Said ebagai calon Gubernur Jawa Tengah akan kuat. Karena Gerindra memiliki 11 kursi DPRD ditambah PKS dengan 10 kursi dan PAN 8 kursi.

Hasil koalisi tiga partai ini nantinya menghasilkan 29 kursi dan jumlah itu lebih dari cukup untuk memenuhi syarat mencalonkan Sudirman ke KPUD

“Dari konsultasi kita dengan beberapa partai tampaknya koalisi untuk Jawa Tengah boleh dikatakan mantap,” katanya.

Mantan Danjen Kopasus ini menyarankan, Sudirman Said untuk berbicara dengan calon partai-partai koalisi terkait siap calon Wakil Gubernur yang akan dipilih sebagai pendamping dalam Pilkada 2018 mendatang.

“Calon Wakil Gubernurnya harus orang yang beliau cocok juga agar kerjasamanya baik. Tentu kita berharap sosok yang dipilih adalah sosok yang selalu ingin berbuat terbaik untuk rakyat. Selalu mengutamakan kepentingan rakyat di atas kepentingan pribadi atau golongan. Tidak korup dan tidak akan korup. Itu yang kita benar-benar diharapkan. Tentunya yang harus capable di bidang kepemimpinan,” ujarnya.

Konstelasi politik menjelang pendaftaran calon kepala daerah di Pilkada Jawa Barat dan Jawa Tengah (Jabar dan Jateng) kian dinamis. Tiga parpol yakni Partai Gerindra, Partai Amanat Nasional (PAN), dan Partai Keadilan Sejahtera (PKS) bahkan mencoba membangun kekuatan bersama di dua daerah ini demi memenangi pertarungan melawan petahana.

Langkah ketiga parpol ini bahkan tergolong berani, yakni mengusung tokoh yang hasil surveinya masih tergolong rendah. Di Pilkada Jateng, Gerindra yang mengusung mantan Menteri ESDM Sudirman Said, siap didukung PAN. “Jateng insyaAllah PAN akan mendukung Sudirman Said yang sejak 6 bulan lalu sudah banyak berdiskusi dengan ketua umum PAN. Kita sudah meminta Sudirman Said untuk berkonsolidasi dengan masyarakat Jateng,” kata Ketua DPP PAN Yandri Susanto di Gedung DPR, Jakarta, Kamis (14/12/2017).

Adapun calon wakil gubernur di Jateng, PAN mengusulkan Wakil Ketua DPR sekaligus Wakil Ketua Umum DPP PAN Taufik Kurniawan dan Bendahara Umum DPP PAN Nasrullah. Tapi siapa yang akan dipilih menjadi wakil Sudirman Said, PAN akan mengomunikasikan dengan partai koalisi.

Komitmen yang sama akan ditunjukkan di Pilkada Jabar. PAN tidak keberatan mendukung Mayjen TNI (Purn) Sudrajat yang diusung Gerindra sebagai calon gubernur. PAN mengklaim PKS juga siap menjadi bagian koalisi ini, meskipun saat ini dukungan diberikan kepada pasangan Deddy Mizwar-Ahmad Syaikhu. “Di Jabar, PAN, PKS, dan Gerindra sudah hampir dipastikan kompak,” ujarnya.

Yandri mengatakan jika ketiga parpol ini bersatu maka kemungkinan besar PKS akan meninggalkan Deddy Mizwar dan mengusung Sudrajat-Syaikhu di Jabar. Yandri tidak khawatir calon gubernur yang akan diusung di Jabar dan Jateng memiliki elektabilitas rendah. Dia mencontohkan Anies-Sandi saat dicalonkan di Pilkada DKI Jakarta yang saat itu surveinya hanya 4% melawan petahana Ahok-Djarot yang mencapai 70%. Faktanya, Anies-Sandi mampu diantarkan jadi pemenang.

Ketua DPP Partai Gerindra Ahmad Riza Patria membenarkan bahwa di Jabar, Gerindra bersama PKS dan PAN akan mengusung Sudrajat-Syaikhu. “PKS sudah setuju dengan ini. Sudah final pasangan ini,” kata Riza saat dihubungi, Kamis (14/12/2017).

Pengamat politik dari Universitas Paramadina Hendri Satrio mengatakan, koalisi parpol di Jabar dan Jateng masih relatif cair meski memang mulai terlihat ada penjajakan oleh Gerindra, PAN dan PKS untuk membangun koalisi. “Kepastian koalisi tiga parpol ini baru bisa dipastikan kalau mereka sudah mendaftarkan calon mereka ke KPU nanti. Sebelum itu semua masih cair, bisa berubah,” ujarnya.

Namun dia mengingatkan bahwa kemenangan telak Anies-Sandi di DKI lebih dipicu oleh sentimen negatif publik Ibu Kota terhadap Ahok yang saat itu tersangkut kasus penodaan agama.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *