Keluarga

Jangan Buru-Buru “Berpisah” Dengan Anak, Sabarlah Menghadapi Tingkah Anak dan Yakinlah Bahwa Itu Lebih Membahagiakan

Ayo, Bagikan:

Dear, Bunda yang seringkali repot dengan tingkah anak. Bunda yang seringkali jengkel melihat anak yang tak bisa diam. Bunda yang seringkali kesal dan lelah dengan tingkah si kecil. Bersabarlah. Ya, bersabarlah karena hal itu tidak akan berlangsung lama dan pasti engkau akan merindukan saat-saat itu nantinya.

Kadang karena kurang sabar, maka orang tua dengan dalih peduli dengan anak lalu “mengeluarkan” anak dari rumah. Dengan cara apa orang tua mengeluarkan anak? Pada umumnya dengan menyekolahkan anak sebelum waktunya.

Waktu berharga bersama anak itu hanya sebentar

https://www.instagram.com/okisetianadewi/

Sadarkah Bunda bahwa waktu-waktu berharga bersama si kecil itu cuma sebentar. Tahu-tahu tanpa sadar anak sudah dewasa. Bayangkan saja saat kita tidur bareng anak, tahu-tahu anak sudah sekolah. Sudah besar dan tak ingin lagi tidur bareng ibunya.

Waktu kita sama anak itu cuma sebentar. Manfaatkanlah sebaik mungkin. Kalau Bunda jengkel dengan sikap anak yang kadang usil, bersabarlah. Yakinlah bahwa kelak Bunda akan merindukan hal itu kembali. Tapi sayangnya waktu tak bisa diputar dan Bunda tak bisa lagi mendapatkan momen itu.

Memasukkan anak sekolah itu untuk anak atau ibu

https://www.instagram.com/okisetianadewi/

Ini sebuah pertanyaan dari Bunda Wina Risman yang ia tulis di grup fesbuk. Ia bertanya, lebih tepatnya mengajak kita untuk merenung, sebenarnya apa sih motif terdalam menyekolahkan anak? Yang dimaksud adalah menyekolahkan anak terlalu dini.

Menyekolahkan anak saat belum waktunya ia bersekolah. Kalau memang sudah waktunya, ya tidak masalah. Justru itu baik bagi anak, tapi kalau memaksakan anak bersekolah sebelum waktunya? Inilah yang Bunda Wina ajak untuk kita renungkan bersama.

Begini tulisannya..

Memasukkan anak sekolah:
Untuk anak atau ibu?

Iya, saya paham. 10 menit keheningan terkadang sangat diperlukan seorang ibu,untuk tetap waras. Apalagi mereka yang mempunyai dua balita dibawah satu atap. Rangkaian pekerjaan yang sudah tersusun rapi di otak, detik ketika kita bangun pagi, seakan sudah menjadi otomatis tersedia. Satu menyambung dengan yang lainnya, hingga tak terasa, sudah waktunya mentari tenggelam lagi. Bahkan, setelah malampun tiba, masih ada sederet dua benda tersisa yang mesti diselesaikan, sebelum akhirnya tubuh mendapatkan haknya untuk baring dan kaki untuk selonjoran.

Iya saya paham.

Hanya saja, berangkat dari kepenatan harian yang sudah menahun, membuat seorang ibu seakan-akan merasa punya alasan, kenapa buah hatinya mesti segera disekolahkan.

Sudah bosan di rumah
Biar belajar bergaul
Menstimulus berbicara
Belajar sharing dan bermain bersama
Anaknya sudah minta
dll, dll…

Sebetulnya, jika ditanya, terutama pada ibu yang menyekolahkan anaknya diusia 3th atau sebelum 5th, jauh kedalam hatinya, sebetulnya alasan mengapa ia menyekolahkan sang buah hati, adalah untuk sekedar merasakan sedikit kenyamanan di rumah. Berkurangnya satu anak untuk beberapa jam, memang mampu mengurangi beban stress yang cukup lumayan. Namun, ia juga tahu, hal itu salah. Karena sang anak belum perlu untuk sekolah, apalagi dengan semua alasan yang tertera diatas. Akhirnya anakpun disekolahkan.

Semua riang..


Untuk dua-tiga hari pertama. Apalagi pas mencoba seragam tk, ada haru sesak dalam dada ‘ah, sudah besar ternyata’.


Uang dikumpulkan, pendaftaran dibayarkan. Dimulailah hari pertama.

Oke oke saja..enjoy anaknya, hingga tiba di hari ketiga. Anak sudah mulai bosan sekolah, mulai menolak berangkat pagi-pagi. Menangis dan berulah. Ibu panik..kenyamanan yang sudah tergambar didepan mata, seakan lenyap pufff.. menguap begitu saja.

Uang sekolah yang sudah dibayarkan, harapan bahwa sang anak akan menikmati dan betah sekolah sebagaimana janjinya, berubah drastis 360•. Ibu kaget, panik..bingung .. dan tidak jarang marah. 


Lalu mulailah sang ibu frustasi, bagaimana menghadapi semua ini?

Sebetulnya, malam setelah kejadian, jika sang ibu mau menelaah kembali hatinya, ia akan menemukan, bahwa memasukkan anaknya sekolah bukan untuk sang anak, namun untuk sedikit kenyamanan pribadinya.

Itulah pesan Bunda Wina Risman, semoga kita bisa mengambil inspirasi dan pelajaran darinya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *