Keluarga

Anak-anak Akui Punya Ibu Kurang Perhatian karena Asik Main Ponsel. Emangnya Anak Barang Dagangan di lantarkan begitu saja !!

Ayo, Bagikan:

KOMPAS.com –- Sebuah studi mengungkapkan bahwa hubungan anak dan ibu di era teknologi seperti sekarang mengalami penurunan.

Pada acara tahunan Highlight Magazine Annual State of The Kid Survey, ratusan anak usia enam hingga 12 tahun hadir sebagai responden mengenai studi pola komunikasi anak dan orangtua terkini.

Peneliti mengajukan pertanyaan mengenai apakah orangtua mereka responsif saat berkomunikasi?
Tak disangka, 62 persen anak mengatakan orangtua tidak perhatian saat anak sedang menceritakan suatu hal atau kegiatan harian mereka.

Peneliti pun menanyakan pertanyaan lanjutan mengenai apa yang mengganggu perhatian orangtua.
Sebanyak 28 persen responden anak menjawab orangtua main ponsel, 25 persen mengurus kakak atau adik mereka, dan 16 persen karena pekerjaan.

Eileen Kennedy-Moore, PhD., Psikolog yang berbasi di Princeton, New Jersey, AS, mengatakan bahwa ponsel pintar menjadi masalah dan gangguan komunikasi antara anak ke orangtua.

“Belakangan ini, saya sering mendengar anak-anak mengeluh mengenai orangtua yang lebih banyak main ponsel, meski banyak anak juga komplein karena mereka juga ingin bermain ponsel,” jelas Kennedy-Moore.

Dia menambahkan bahwa perkembangan teknologi memang banyak memudahkan kehidupan keluarga modern. Namun, tak bisa disangkal bahwa teknologi berdampak buruk pada hubungan anak dan orangtua.

Kennedy-Moore mengingatkan bahwa orangtua yang tidak responsif pada perkembangan anak, bisa menerapkan pola asuh kasar dan disiplin yang berlebihan.

Jenny Radesky dari Boston University, AS, melakukan sebuah penelitian pola asuh modern dengan cara memperhatikan dan memonitor perilaku 50 orangtua serta anak di sebuah restoran cepat saji.
Radesky menemukan bahwa sebagian besar orangtua menghardik anak hanya karena diajak bicara oleh anak saat sedang menggunakan ponsel.

Selain itu, Radesky juga melaporkan, 16 orangtua terlihat konsisten menggunakan ponsel saat makan bersama anak-anak.

Radesky menjelaskan bahwa sebagian anak menerima kurang perhatian dari orangtua, tetapi mayoritas anak mulai bertingkah dan berperilaku buruk selama waktu makan.

Punya Banyak Mainan Bikin Anak Tidak Kreatif

KOMPAS.com — Dunia anak memang bermain, tetapi terlalu banyak memiliki mainan justru berdampak buruk pada kreativitas anak.

Anak-anak yang memiliki banyak mainan akan mudah teralihkan atau kurang fokus serta tidak menikmati waktu main yang berkualitas.

Kesimpulan itu dihasilkan dari penelitian tim Universitas Toledo, Ohio, Amerika Serikat, yang melibatkan 36 anak balita. Para balita itu diajak main di ruangan bermain selama 30 menit dengan hanya 4 mainan atau 16 mainan.
Ternyata, anak balita menjadi lebih kreatif saat mereka hanya punya beberapa mainan untuk dimainkan. Mereka juga akan memainkan setiap mainan itu dua kali lebih lama dan lebih mengeksplorasi permainannya.

Tim peneliti menyarankan agar orangtua, guru, atau pengasuh di tempat penitipan anak mengurangi jumlah mainan dan merotasi mainannya secara berkala. Tujuannya agar anak lebih kreatif dan meningkatkan rentang fokusnya.

“Jumlah mainan anak berpengaruh pada kualitas permainan mereka. Mainan yang terlalu banyak justru mengganggu durasi dan kedalaman permainan,” kata ketua peneliti, Dr Carly Dauch, dalam jurnal Infant Behaviour and Development.
a Ini bukan penelitian pertama yang menyodorkan bukti efek negatif kebanyakan mainan pada anak. Pada 1990-an, peneliti dari Jerman juga menunjukkan bahwa anak yang memiliki sedikit mainan justru lebih kreatif dan lebih sosial.

“Anak akan belajar menghargai mainan yang ada di depannya dibandingkan dengan ada banyak pilihan mainan,” kata penulis buku ClutterFree with Kids, Joshua Becker.

Ia mengatakan, anak yang punya banyak mainan secara alami akan kurang peduli dan merawat mainannya. “Mereka tak akan belajar menghargainya jika selalu ada pengganti mainan lain,” ujarnya.
Mainan yang terbatas justru membuat anak kreatif dan mampu menyelesaikan masalah dengan material yang terbatas.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *