Berita

Aksi Heroik Pasukan Elite Indonesia yang Bisa Membuat Israel Ketar Ketir

Ayo, Bagikan:

Meski bukan yang terkuat di dunia, pasukan elite yang dimiliki TNI cukup ditakuti dunia. Sederet prestasi dan sepak terjang mereka membuat banyak negara geleng-geleng kepala dan pantas angkat topi dengan kehebatan TNI.

Sebut saja Kopassus, Denjaka, Kopaska ataupun Den Bravo 90. Mereka adalah pasukan elite dari kesatuannya masing-masing yang punya kemampuan perang sangat mengagumkan.

Hal ini tentu membuat rakyat Indonesia patut berbangga. Berikut aksi pasukan elite Indonesia yang menggegerkan dunia seperti dikutip dari laman boombastis.com.

Tentara Indonesia Tembak Mati 20 Pasukan Gurkha Inggris

Pada tahun 1963 silam, Indonesia dan Malaysia terlibat konfrontasi. Saat itu, TNI menerjunkan pasukan guna membantu Tentara Nasional Kalimantan Utara (TNKU) melawan Malaysia.

Mereka terdiri dari pasukan elite Indonesia, yaitu Resimen Para Komando Angkatan Darat (RPKAD) yang kini bernama Kopassus dan Pasukan Gerak Tjepat (PGT) dari TNI AU. Untuk tidak menimbulkan kecurigaan pihak lawan, pasukan elite tersebut mengenakan seragam hijau milik TNKU dan memalsukan identitas mereka.

Malaysia lalu meminta bantuan Inggris lantaran terdesak oleh tentara Indonesia. Inggris kemudian mengirim pasukan elite-nya Special Air Service (SAS) termasuk yang bercokol di Malaysia dan Selandia Baru. Tak hanya itu, Inggris juga menerjunkan pasukan Gurkha untuk membantu SAS.

Kontak senjata pun pecah pada 10 Juli 1964 yang melibatkan satu peleton TNKU melawan dua peleton Gurkha. 20 orang pasukan Gurkha tewas dalam peperangan itu sementara hebatnya tak seorangpun dari pihak TNKU menjadi korban.

Tiga Anggota Kopaska Usir Dua Kapal Malaysia

Pada tahun 2005 silam, dua buah kapal TLDM dan Police Marine Malaysia bikin ulah di perairan Karang Unarang sebuah kawasan kaya minyak Blok Ambalat. Mereka mencoba merapat dan menenggelamkan jangkar mereka untuk mengganggu pembangunan mercusuar di perairan yang masuk wilayah kedaulatan NKRI itu.

Meski sudah diperingatkan oleh TNI AL dari atas KRI Tedong Naga, namun dua kapal negeri jiran itu tetap ngeyel. Akhirnya, komandan KRI Tedong Naga menghubungi Tim Kopaska yang dikomandani Lettu Berny untuk mendatangkan bantuan. Alhasil, tiga anggota Kopaska masing-masing bernama Serka Ismail, Serda Muhadi dan Kelasi Satu Yuli Sungkono dikirim untuk “menyelesaikan” ulah Malaysia.

Untuk mengecoh perhatian awak kapal Malaysia, Serka Ismail memerintahkan motor boat yang dikendarai ketiganya melaju secara zigzag. Taktik itupun berjalan mulus, para ABK kapal Malaysia lalu terpancing untuk terus mengamati pergerakan motor boat, sedangkan Serka Ismail menyelam, mendekati dan masuk secara senyap ke salah satu kapal tersebut.

Dengan tangan kosong tanpa membawa senjata, Serka Ismail mendobrak pintu kapal dan memerintahkan kapal Malaysia itu enyahdari wilayah teritori Indonesia. Meski sempat terjadi perdebatan sengit, dua kapal Malaysia itu akhirnya kabur tancap gas lantaran ciut dengan keberanian Serka Ismail.

Kopassus Habisi Milisi Ambon Hanya dalam Waktu Dua Jam

Untuk mengatasi tragedi kerusuhan di Ambon pada tahun 2001 pemerintah pusat menerjunkan pasukan gabungan yang terdiri dari Kopassus, Marinir dan Paskhas.

Keberadaan Kopassus yang saat itu dipimpin oleh Kapten Nyoman Cantiasa ternyata mengundang sentimen dari para milisi sehingga mereka melancarkan serangan membabi buta.

Merespons ulah para milisi itu, gedung dan tempat-tempat yang diperkirakan menjadi markas milisi dihancurkan pasukan gabungan. Kapten Cantiasa akhirnya mengetahui jika markas utama milisi Ambon itu berada di Hotel Wijaya II.

Akhirnya, Kopassus bergerak cepat melakukan “sapu bersih” di area hotel tersebut. Hanya dalam waktu dua jam saja, markas pusat milisi Ambon berhasil direbut pasukan baret merah milik TNI AD itu.

Hebatnya, saat itu pasukan elite TNI AD tersebut menggunakan senjata-senjata yang sudah ketinggalan zaman, mengingat pada masa itu Indonesia tengah diembargo oleh Amerika Serikat (AS) dan Uni Eropa.

Kopassandha Gagalkan Pembajakan Pesawat Garuda

Aksi pembajakan oleh sekelompok terduga teroris terjadi pada 28 Maret 1981. Sebanyak lima orang teroris pimpinan Imran bin Muhammad Zein dari kelompok Islam radikal, Komando Jihad membajak pesawat Garuda Indonesia dengan nomor penerbangan 206 atau DC-9 Woyla.

Pesawat itu sebelumnya berangkat dari Jakarta pukul 08.00 WIB lalu transit di Palembang untuk terbang kembali ke Palembang. Namun, saat hendak menuju Palembang, para teroris yang membawa senjata api dan bahan peledak menyamar sebagai penumpang lalu membajak dan menyandera orang-orang yang ada di dalam pesawat.

Setelah mendarat sementara untuk mengisi bahan bakar di Bandara Penang, Malaysia, akhirnya pesawat tersebut terbang menuju Bandara Don Mueang di Bangkok, Thailand.

Pada tanggal 29 Maret 1981, sebanyak 35 pasukan elite TNI AD yang baru saja dibentuk bernama Para-Komando Kopassandha (sekarang Kopassus) berangkat secara diam-diam ke Thailand dengan mengenakan pakaian sipil.

Kemudian pada tanggal 31 Maret dini hari, mereka yang terbagi dalam tiga tim (Tim Merah, Tim Biru dan Tim Hijau), menolak bantuan berupa jaket anti-peluru yang ditawarkan CIA yang saat itu berada di Thailand.

Singkat cerita, Tim Hijau berhasil mengamankan pintu belakang pesawat dan merangsek ke dalam. Sedangkan Tim Biru dan Tim Merah menerobos masuk sehingga terjadi baku tembak dengan teroris.

Tragedi pembajakan pesawat Garuda DC-9 Woyla tersebut berlangsung empat hari di Bandara Don Mueang, Bangkok yang berakhir pada 31 Maret 1981. Serbuan kilat Grup-1 Para-Komando pimpinan Letnan Kolonel Infanteri Sintong Panjaitan berhasil menuntaskan perlawanan teroris.

Pilot pesawat Garuda, Kapten Herman Rante dan salah seorang anggota satuan Para-Komando Kopasshanda, Achmad Kirang meninggal dunia dalam tragedi itu. Keduanya kemudian dimakamkan di Taman Makam Pahlawan (TMP) Kalibata, Jakarta.

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *